
Ku seret kembali jajahan minda dalam waktu usaha merasai nilai kembara di seberang laut. Usaha yang kadang diselit humor, emosi, belas dan tekanan sungguh mengajar apa itu nilai dalam bermasyarakat. Kerna dalam usaha itu ku fahami jiwa yang sekadar kukenali sebelumnya. Juga dalam usaha itu, gah terbina rasa setiakawan, biar kadang diuji amarah yang prejudis.
Sabda nabi SAW..“Tiada beriman seorang kamu hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya” (bukhari dan muslim)
Penat menyusur dalam bahang mentari, memerah sisa kesabaran dalam setiap keringat. Hina menadah tangan dan memanis bicara, mencalar ego yang bukan mudah diremehkan. Semua itu dengan harapan, ada tangan yang ikhlas memberi .
Cuma kadang dalam tegar usaha itu, cacatnya bagai terasa lantaran tipis dalam amalan keredhaanNya. Aku husnulzon kan diri, mengharapkan biar cacat itu tidak dipandang bertabir niat kerana-Nya.
“hanya segala amal dengan niat dan hanya bagi tiap-tiapseorang apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya bagi dunia yang ia kan memperolehuinya atau perempuan yang ia ingin mengahwininya, maka hijrahnya kepada apa yang ia berhijrah kepadanya itu.” (bukhari dan Muslim)
Biar belum waktunya arah usaha itu, segala rasa didalamnya diadun membibitkan rasa manis yang hampir dikecap bersama. Biar juga usaha itu hampir terlunas, penuh kuharapkan agar rasanya dilupa jangan. Yogyakarta hampir pasti...